Selingkuh

eMmm.. gara2 status di YM itu dari playlist di Winamp. Kebetulan kemarin abis download mp3 “Celebrand - Entah kenapa selingkuh itu indah” trus aQ play deh tuh lagu. Gara2 status itu jadi ada obrolan tentang selingkuh, akhirnya malah jd ada yg curhat ttg cerita2 dia selingkuh.

Yah kira2 obrolan Qta bgini :
he: entah kenapa selingkuh itu indah hhh
he: lucu juga tagnya
me: ini lagu dr tmen qu
me: iseng aja
me: judulnya lucu
he: tau nggak kenapa selingkuh itu indah ??
me: enggak
me: knp?
he: karena ada orang lain yang lebih memerhatikan, mengerti dan membantu kita dibanding orang yang kita sayangi
me: emm ada 2 alasan org selingkuh
he: salah 3 :
me: satu lagi apa
he: 1. karena sex,2.karena simpati,3.karena jatuh hati
he: karena gw ngalamin sendiri
dst.. *selanjutnya disensor *

Kenapa aQ bisa bilang ada 2 alesan untuk selingkuh, ini dapet juga gara2 nonton film Jomblo, klo enggak salah kata2nya begini : “Ada 2 alesan kenapa orang selingkuh. Yang pertama adalah dia belum bisa memberikan yang terbaik untuk pasangannya atau sebaliknya pasangannya yang belum bisa memberikan yang terbaik untuk dia”. Apa iya selingkuh itu indah? Trus bener enggak yah alesan2 diatas yang bikin seseorang selingkuh? Atau ada alesan lain? Ah sudah lah, intinya balik ke pribadi masing2 aja deh, semua itu tergantung ma orangnya sih. *lanjutin nyanyi lagi ahh.. *

Posted: October 6, 2006

15 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://irene87.blogsome.com/2006/10/06/selingkuh/trackback/

  1. Orang yang selingkuh itu berarti LEMAH, gak bisa ngadepin kenyataan, gak bertanggung jawab pada pasangannya, gak bisa …
    (ntar…, ada SMS dari sephia-ku…) ;) )

    Comment by Aryo Sanjaya — October 6, 2006 @ 7:49 am

  2. kenapa si aryo jadi sering komen di sini ya?
    *memandang curiga*

    Comment by arjuna — October 9, 2006 @ 1:21 am

  3. #tub:
    ternyata irene ini adekku yang dulu dititipkan ke papanya irene sekarang.
    * hembus-hembus gosip gak jelas *

    Comment by Aryo Sanjaya — October 9, 2006 @ 3:10 am

  4. cuman mau bilang saya pernah kepenthok selingkuh, karena dulu nasehatin pasangan2 yang akan dan sedang selingkuh biar kembali ke jalan yang benar.jadi kena karma gitu deh.kalo udah ada yang kepenthok pm gw yach

    Comment by aku — October 9, 2006 @ 9:20 am

  5. selingkuh itu indah kalo gak ketahuan, tapi mimpi buruk kalo ketahuan

    Comment by Mr.anteNg — October 12, 2006 @ 4:10 am

  6. selingkuh itu indah….
    ak yakin suatu sasat seseorang pasti akan mencintai 2 orang sekaligus dalam hidup..
    jgn salahin orang selingkuh dong..
    lgian sapa si yg mau dua in pasangan…
    perasaan org mmg ga bs ditahan..iya kan??????????

    Comment by Qnoy — October 20, 2006 @ 9:57 am

  7. jujur aja aku cewek yg sejak dulu selalu suka selingkuh atau aku wanita yg suka mendua,aku gak pernah punya pacar 1,pernah juga ke pergok di rumah 2 dua nya ngapelin gw,,tp semua berjalan lancar..aku memang pintar dlm mencari alasan,saat ini gw udh nikah tapi rasa ingin selingkuh sgt kuat bgt,aku pun selingkuh dengan mantan ku,nth kenapa aku begini..ingin ku merubah diriku utk tk berselingkuh lagi,,mohon bantuan temen2 semuanya.

    Comment by nena — November 30, 2006 @ 2:41 pm

  8. You know what,

    I’ve been falling in love with my co-worker for a long time. Too bad, she just recently married about a couple of years ago. And of course, she’s been keeping a safe distance from me ever since.

    And mind you, I tried to honor her status as someone else’s wife, respecting her decision to stay away from me. See, she is not a ‘flirting type. Nope. Nossire. She’s a ‘good girl’ type. Of course she’s cute, and although many people say she’s not beautiful, she’s simply the sweetest woman I’ve ever known. But again, she’s a ‘good girl’ type –she’s definitely not your typical flirtatious bitch who flaunts her bare legs in front of the guys. No. She’s the contrary.

    So again, I tried to honor her status as a married woman, respecting her decision to stay away from me…

    ….ONLY TO FIND THAT SHE’S HAVING AFFAIR WITH SOMEONE ELSE.

    Alright, it seems it’s not a sexual affair –only emotional affair. But damn….

    You wonder how am I feeling right now? Of course I’m crushed. Royally fucked.

    But then again, if there’s anything I’m thankful about, it is the fact that I AM SINGLE.

    How’s HER HUSBAND gonna feel if he discovered that his good wife –good wife, since she’s definitely a good girl type– is cheating on him? And yes, emotional affair is still an affair nonetheless.

    Now I’m thankful that I’m not her husband.

    And most of all, I’m really thankful that I’m a free, single guy.

    A free, single guy.

    By the way, I just went to a brothel last night, trying to find some distraction. And somehow, I couldn’t help but thinking: “PROSTITUTES DO NOT CHEAT, WIVES DO.”

    (….and people still wonder why my name is Iceheart.)

    Comment by Kreshna Iceheart — April 25, 2007 @ 6:19 pm

  9. wah perlu di tambahkan dengan tips selingkuh aman
    http://b0wo.blogspot.com/2005/04/tips-selingkuh-aman.html

    Comment by b0wo — May 13, 2007 @ 2:59 am

  10. H A C K E DbyJ4mbi H4ck3rSpecial Thank’sPeNcOpEt_CiNtADedicated
    All CrewJambihackerlink & SolohackerlinkHey admin…….do you a need help ?Matrix.Dal.Net - #Jambihackerlink

    Comment by a — June 10, 2007 @ 12:49 am

  11. When commenting on blogs, news, or articles, I normally write in English. However, since this article concerns Indonesians –Indonesian women in particular, I decide to take the liberty to write in Bahasa instead.

    Alright, here it goes:

    Berdasarkan pengamatan saya, menikah karena cinta merupakan “budaya” dari generasi terdahulu; orang-orang yang hidup di masa lampau. Orang tua saya, misalnya, menikah di usia tiga puluhan; mereka tidak pernah merasakan adanya “tekanan” atau “paksaan” untuk menikah. Ibu saya adalah seorang pengajar yang senang menekuni pekerjaannya di bidang keilmuan, sedangkan ayah saya senang memanfaatkan waktu senggangnya untuk mendaki gunung, menembus rimba, atau menyelam. Mereka masing-masing berbahagia dengan hidupnya sebagai lajang, dan tidak merasakan adanya tekanan untuk menikah.

    Dan saat mereka kebetulan bertemu, mereka betul-betul saling jatuh cinta satu sama lain, dan lalu menikah. Walaupun kadang bertengkar, tapi terlihat bahwa mereka memang menikah karena cinta. Sebagai contoh, walaupun mereka berdua sama-sama berkarir dan berinteraksi dengan bermacam lingkungan, tidak ada satu pun dari mereka yang pernah berselingkuh.

    Itulah contoh pernikahan yang memang disebabkan oleh cinta, dan bukan karena social pressure, target usia, atau sebab-sebab lainnya.

    Bagaimana dengan generasi sekarang?

    Ada dua hal yang saya amati dari generasi saat ini (yang merupakan generasi saya juga). PERTAMA, saat ini banyak sekali orang Indonesia, terutama wanita, yang menikah karena “target”. Saya sendiri tidak tahu apakah hal itu disebabkan oleh “social pressure”, budaya lokal, atau hal-hal lainnya. Tetapi yang jelas, banyak sekali orang Indonesia yang berpikiran bahwa hidup ini hanyalah sekolah, kerja, dan lalu kawin –seolah-olah hidup ini hanya seperti itu saja.

    Apakah ini budaya lokal orang Indonesia? Saya rasa tidak, karena orangtua saya sendiri (seperti yang saya ceritakan di atas) adalah orang Indonesia juga. Yang saya heran, kenapa budaya generasi terdahulu itu bisa lebih “liberal” daripada budaya generasi sekarang? Orangtua saya menikah pada umur tigapuluhan, dan mereka tidak punya masalah dengan hal itu. Sementara, pada masa-masa sekarang ini, seseorang yang sudah mencapai usia mapan tapi masih belum menikah akan menjadi bulan-bulanan oleh lingkungannya.

    Mungkin Anda tidak akan percaya bahwa “social pressure” semacam itu masih sering terjadi di Jakarta yang (katanya) sudah menganut prinsip multikultural ini. Tadinya saya pun selalu menganggap bahwa “tekanan” semacam itu hanya mungkin terjadi di lingkungan-lingkungan yang masih undereducated dan traditional, tapi setelah mengalami sendiri, saya pun jadi percaya.

    KEDUA, sekarang ini banyak sekali terjadi kasus perselingkuhan –terutama di tempat kerja. Saat ini, sepertinya berpacaran dengan wanita yang sudah bersuami sudah merupakan hal yang biasa saja –bahkan saya sendiri pernah beberapa kali melakukannya.

    Saya tidak tahu bagaimana pengalaman orang lain, tapi dari pengalaman saya sendiri, alasan dari wanita-wanita itu untuk berselingkuh adalah karena mereka tidak memiliki “rasa” dengan suaminya; sebagian dari mereka bahkan ada yang pernah mengaku dengan sangat blatant, “ah, dari dulu alasan saya menikahinya memang bukan karena cinta kok.”

    Memang ada juga kasus dimana ada salah satu dari mereka yang benar-benar cinta kepada suaminya, hanya saja rumah tangga mereka memang sedang dalam masalah (dalam hal itu saya hanya sekedar menjadi pelarian), tapi sebagian besar memang menikah bukan karena cinta.

    Saat sedang antri di bandara, saya pernah tidak sengaja mendengar percakapan dari beberapa orang gadis Indonesia yang sedang antri di depan saya. Sepertinya mereka adalah pelajar universitas (univesity students), dan berasal dari latar belakang yang cukup berpendidikan. Gadis-gadis muda ini tentunya memiliki potensi untuk menjadi wanita-wanita mandiri; mereka memiliki pendidikan yang baik, mereka dapat memperoleh pekerjaan yang baik, dan tentunya mereka tidak membutuhkan laki-laki untuk menghidupi mereka.

    Betapa kagetnya saya saat mendengar salah seorang dari gadis-gadis itu berkata, “ah, gua sih sudah ada yang melamar; sudah ada laki-laki yang mau menghidupi gua. Gua sih sudah enak bo…”

    Jadinya saya tertarik untuk terus mendengarkan. Ternnyata tidak ada satu pun dari gadis-gadis itu yang memiliki MINAT untuk mandiri, walaupun dengan pendidikan yang mereka miliki, mereka sebetulnya mampu untuk mandiri.

    Mereka semua menginginkan satu hal yang sama, yaitu MENIKAH. Dan motivasinya pun bukan karena cinta, tapi “supaya ada yang menghidupi”. Oh, mereka ingin tetap bekerja, tapi gaji yang mereka peroleh adalah betul-betul hanya untuk bersenang-senang, sedangkan untuk kebutuhan pokok, mereka mengharapkan ada seorang laki-laki yang menyediakannya.

    Hmmm… Jadi benar juga, sepertinya menikah karena cinta adalah budaya generasi terdahulu.

    Saya jadi ingat gerakan feminisme di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Pada tahun 60 –an, yang disebut sebagai “wanita feminist” adalah betul-betul wanita mandiri yang menolak untuk menikah; mereka adalah orang-orang yang patut dikagumi, yang merasa mampu untuk mandiri, dan memang berjuang untuk hidup mandiri.

    Dan pada masa itu, kalau ada wanita feminist yang menikah, maka alasannya adalah memang karena cinta. Ibu saya adalah contohnya.

    Sedangkan, pada masa sekarang ini, sepertinya wanita-wanita feminists adalah perempuan yang ingin menikah untuk memperoleh kenyamanan hidup. Bahkan lebih parah lagi, di Amerika Serikat, ada budaya yang disebut sebagai “DIVORCE FOR PROFIT”, yaitu sengaja memancing perceraian supaya memperoleh tunjangan hidup dari mantan suaminya. Hal ini disebabkan karena Undang-Undang Perceraian yang tidak adil, yaitu mewajibkan mantan suami untuk terus menghidupi mantan istrinya –tidak peduli siapa yang bersalah dalam perceraian itu.

    Maka tidak heran kalau kaum feminist jaman sekarang berbeda dengan feminist jaman dahulu. Feminist generas sekarang adalah wanita-wanita yang senang memaki-maki kaum laki-laki yang tidak mau menikah. Laki-laki yang memutuskan untuk tetap bujangan akan menjadi “bulan-bulanan” dari kaum feminist tersebut. Lingkungan pekerjaan hanyalah salah satu contoh dimana laki-laki bujangan akan terus dibuat “merasa bersalah” oleh kaum wanita di sekitarnya.

    Kalau melihat pengalaman saya saat mengantri di bandara tersebut, sepertinya wanita-wanita Indonesia sudah tertular oleh “budaya wanita Amerika”.

    Sayangnya, beban laki-laki Indonesia lebih berat daripada laki-laki Amerika. Di Amerika, “tekanan lingkungan” (social pressure) untuk menikah jauh lebih ringan daripada di Indonesia. Sementara di Indonesia, “budaya timur” dan “faktor agama” merupakan alasan-alasan yang sering digunakan untuk memberikan “tekanan” kepada laki-laki supaya mau menikah.

    Walaupun saya termasuk orang kulit berwarna, tapi saya sendiri tidak menganut “budaya timur”, dan saya sendiri tidak peduli kepada “tekanan lingkungan” yang menyuruh saya untuk menikah. Saya sudah terbiasa dengan wanita-wanita di sekeliling saya yang terus-menerus “mencela” saya, karena saya adalah laki-laki yang berprinsip tidak mau menikah.

    Tapi saya merasa kasihan kepada sesama laki-laki Indonesia lainnya. Banyak dari mereka yang merasa bahwa hanya karena mereka termasuk golongan kulit berwarna, maka mereka menjadi wajib untuk “patuh” kepada “budaya timur”. Salah satu akibatnya adalah mereka jadi merasa wajib untuk menyerah kepada tekanan lingkungan yang “memaksa” mereka untuk menikah.

    Dan akhirnya, banyak dari mereka yang mengalami sakit hati saat mengetahui bahwa istri mereka sebetulnya tidak mencintai mereka –bahwa alasan dari istri mereka untuk menikah adalah BUKAN karena cinta.

    Mungkin memang benar, bahwa menikah karena cinta merupakan budaya dari generasi jaman dahulu.

    Bagaimanapun juga, alangkah sayang mengetahui bahwa masih banyak laki-laki Indonesia yang cukup bodoh untuk menikah.

    Apakah alasannya karena seks? Padahal seks bisa diperoleh dengan mudah tanpa harus menikah. Apakah alasannya untuk mencapai kebahagiaan? Padahal kebahagiaan yang diperoleh dari kebebasan dan kemerdekaan hidup melajang adalah jauh lebih besar.

    Apakah alasannya karena cinta? Nah, kalau memang demikian, maka waspadailah calon istri Anda, karena belum tentu dia juga mencintai Anda. Bersiaplah untuk sakit hati seandainya istri Anda nanti berselingkuh dengan laki-laki lain. Ingatlah bahwa wanita yang menikah karena cinta adalah wanita-wanita dari generasi jaman dahulu, bukan dari jaman ini. Lagipula, wanita-wanita yang jujur hanya ada di negeri dongeng. Ever seen a honest woman? Me neither.

    Laki-laki di Indonesia harus lebih berani untuk memiliki pendirian sendiri, harus berani untuk tidak tunduk kepada tekanan-tekanan sosial yang memaksa untuk menikah. UNITED WE STAND, DIVIDED WE FALL. SAY NO TO MARRIAGE!!

    Comment by Kreshna Iceheart — June 29, 2007 @ 6:29 am

  12. Hmm Kreshna bener2 versi ekstim dari gue, meski gue gak akan bilang enggak sama pernikahan. Gue pikir sendirian atau menikah bukan sesuatu yang kontras jd ga perlu dipertentangkan. Orangtualo ngasih contoh keren banget tuh. Tapi jadi mikir, kalo hidup sendirian terus ’sepertinya’ membenci kehidupan pernikahan (karena Ny. Sempurna bukan rejekinya, termasuk risiko pasangan berselingkuh), apa masih bisa bener2 bahagia. Kayaknya kita bener2 bisa suka ama laut kalau kita gak membenci darat, bukan..?

    (hrp kunjungi http://www.luttpe.multiply.com/journal)

    Comment by luttpe — June 29, 2007 @ 5:13 pm

  13. luttpe said: “Kayaknya kita bener2 bisa suka ama laut kalau kita gak membenci darat, bukan..?”

    Analogi yang lebih tepat bukan “laut” dan “darat”, tapi “kebebasan” dan “penjara”. Orang yang mencintai kebebasan dengan sendirinya akan membenci penjara.

    Marriage is probably a wonderful institution, but who wants to live in an institution? Certainly not me. A man who trades his freedom and happiness for marriage certainly does not deserve freedom nor happiness.

    SAY NO TO MARRIAGE!
    -Kresh

    Comment by Kreshna Iceheart — July 22, 2007 @ 7:00 am

  14. Some words of wisdom:

    “Ever seen a honest woman? ME NEITHER.”

    “A man needs marriage just as much as a fish needs a bicycle.”

    “I think, therefore I’m single.”

    “The only reason why feminists are against legalizing prostitution is because they’re afraid of competition.”

    “A woman always needs two types of man: the nice and responsible guy she’s married to, and the lovable guy she’s having affair with.”

    “Prostitutes don’t cheat; wives do.”

    “Prostitutes are honest women; wives aren’t.”

    Comment by Kreshna Iceheart — December 12, 2007 @ 2:30 am

  15. menikah atau tidak menikah, bahagia memang ada effortnya. jadi jangan pernah berharap bahagia jika hanya menunggu orang lain memberikan effortnya kepada kita.

    Comment by faithfull — August 4, 2008 @ 4:42 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>